Senin, 09 September 2013
Sabtu, 01 Juni 2013
Rasa syukurku.
Pada tahun 1993,
hari selasa kliwon tanggal 11 Mei 1993 di dusun Nganjung-anjung, Kelurahan
Ngablak, Kecamatan Wonosegoro, Kabupaten Boyolali, lahirlah seorang bayi
laki-laki yaitu aku. Agung Setiawan. Aku adalah putra dari pasangan Wagiman dan
Siti Safaah. Orang tuaku menikah ada tahun 1992. Aku berdarah asli Jawa, yang
mana kedua orangtuaku asli dari Kabupaten Semarang dan Boyolali. Sejak lulus
SMA Swasta di Jakarta ayahku bekerja sebagai buruh bangunan. Dan sekarang pun
masih bekerja sebagai buruh bangunan. Entah mengapa meskipun lulusan SMA ayahku
susah mencari pekerjaan yang lebih baik. Namun demikian itulah jalan yang
dipilih ayahku. Namun ketika beliau merantau di Jakarta beliau pernah bekerja
sebagai tukang ojek sepeda onthel, bekerja di fotocopyan dan lain-lain.
Sedangkan ibuku hanya lulusan SD. Beliau pernah bekerja di sebuah pabrik
tekstil di Jakarta selama kurang lebih 8 tahun. Sejak tahun 2007 ibuku di pecat
dari pabrik dan selama 3 tahun lebih hanya di rumah. Kemudian pada akhir tahun
2011 ibuku mencoba berjualan jamu di Karawang Jawa Barat. Jamu yang di jual
berupa beras kencur, kunyit asem, jahe dan beberapa ramuan pahit dari tanaman
tradisional serta obat jamu sachet. Dan hingga sekarang masih bertahan sebagai
penjual jamu di Karawang.
Aku merupakan
anak pertama dari 3 bersaudara. Adik pertamaku lahir ada tahun 1996, namanya
Rizal Khuzzai, dan adik keduaku lahir pada tahun 1998, namanya Novia Kusuma A.
pada tahun 1999 aku masuk Sekolah Dasar
1 Ngablak. Aku adalah tipe orang yang pendiam, menurut pada orang tua
dan tidak memaksakan kehendak. Sehingga banyak sanak saudara yang mengatakan
bahwa aku ini anak yang penurut dan mudah diatur. Ketika berada di SMPN 2
Wonosegoro pada tahun 2005, teman-temanku juga menganggap bahwa aku ini orang yang
sabar, tapi masih penakut. Ya memang untuk mental mungkin aku masih kurang.
Pernah suatu ketika masih SD aku diminta membeli suatu barang, tapi aku salah
membeli barang yang diinginkan kemudian aku pun menangis, padahal orang tuaku
tidak memarahiku, mereka hanya menasehatiku.
Sejak SD
rangking yang aku dapat tidak begitu buruk, meskipun hanya 2 kali juara kelas
namun setidaknya 5 besar pasti aku masuk. Mungkin karena logikaku yang cukup
baik yang bisa membuatku masuk 5 besar. Untuk belajar sangat jarang sekali,aku hanya mengandalkan
mendengarkan guru di kelas. Bermodalkan catatan dan memperhatikan gurulah yang
membuatku paham apa yang diajarkan. Selain itu berdiskusi dengan teman juga
sangat membantu ingatan agar lebih mengerti.
Hampir sejak
kecil aku tinggal bersama kakek nenek, karena orang tuaku yang merantau mencari
nafkah ke ibu kota. Hanya sesekali kadang pulang untuk beristirahat di rumah,
dan tiap idul fitri pasti pulang. Aku dan kedua adikku diasuh oleh kakek
nenekku. Dari memasakkan makanan sampai aktifitas pun juga mengikuti kakek
nenek, yaitu ke sawah dan menggembala kambing. Sudah menjadi hal yang biasa bermain
di sawah dan kebun.
Ketika SMP keberanianku
mulai muncul sejak mengenal pramuka. Hal yang menyenangkan dan menarik aku
dapatkan dari pramuka. Masuk Kelas 3 SMP ibuku sudah tidak bekerja lagi di Jakarta,
sehingga ibuku membantu kakek nenek bertani di desa. Dan pada waktu itu keadaan
ekonomi kami cukup memprihatinkan. Untuk mencukupi makan dan kebutuhan rumah
tangga kami harus berhutang beras kepada juragan beras. Namun hal tersebut tidak
mengecilkan hati kami untuk terus berusaha.
Tahun 2008 aku
masuk SMAN 1 Karanggede, sebuah SMA yang berkembang di perbatasan kabupaten. Dapat
dikatakan bahwa aku dibesarkan di SMA tersebut. Karena hampir seluruh waktuku
aku habiskan di SMA. Mulai dari berangkat sekolah hingga mengikuti kegiatan
ekstrakurikuler di SMA. Bahkan ibuku menegurku, “ kamu itu sekolah atau
karyawan? Kok pulangnya maghrib terus.”. Yah memang inilah masa-masa yang banyak
tingkah. Tapi betapa menikmatinya dengan aktifitas seperti itu.. Mulai mengenal
organisasi secara menyeluruh adalah masa SMA ini. OSIS, PRAMUKA,Club belajar
dan lain-lain menjadi hal yang jangan sampai disia-siakan.
Hobi yang sudah
sering aku lakukan ketika SMP adalah bermain gitar, ketika SMA muncul inisiatif
untuk membentuk band dari teman-teman se-SMP dulu. Dan terbentuklah band tersebut
dengan nama KAVOS. Yang terdiri dari Khamim, Agung, Feri,Eko, Danu S. Dan nama
tersebut di ambil dari Abjad nama-nama personelnya. Pertama kali kami tampil
ketika pensi tahunan. Kemudian tampil untuk yang kedua kalinya ketika
perpisahan. Nah kami menyanyikan lagu yang kami buat sendiri. Dan yang terakhir
ketika pensi tahunan lagi.
Ipa adalah
jurusan yang aku ambil di SMA, dengan berbagai pengetahuan yang luar biasa dari
guru-guru yang sangat memotivasi. Lulus SMA masih bingung mau kemana. Mencoba SNMPTN
undangan, namun masih belum diterima. Kemudian daftar SNMTN tulis. Sungguh hal
yang tidak terduga, aku diterima di Keperawatan Gigi UGM. Jurusan yang sama
sekali belum tahu akan belajar apa kelak.
15 Juli 2011
adalah tanggal aku terdaftar sebagai mahasiswa di UGM. Dengan perjuangan
meminta keringanan biaya akhirnya bisa masuk UGM. Syukur Alhamdulillah Beastudi
Etos aku dapatkan. Aku tinggal di asrama sejak pertama masuk kuliah. Dan sekarang
sudah semester 4, banyak hal baru juga yang aku dapatkan di dunia kampus ini.
Mengenai prestasi
dan sebagainya aku tidak sehebat teman-teman etoser (penerima beasiswa etos)
lainnya. Namun, rasa syukurlah yang aku anggap paling penting untuk memaknai
segala hal tersebut. Harapanku adalah aku dapat menjadi solusi untuk
orang-orang di sekitarku secara langsung maupun tidak secara langsung.
Minggu, 12 Mei 2013
Sosial Enterpreneur
Akhir-akhir ini istilah social entrepreneur atau
kewirausahaan sosial semakin santer terdengar. Seseorang terdorong menjadi
Social entrepreneur bukan karena kepincut oleh laba yang akan dihasilkan,
melainkan ingin mengubah suatu keadaan di masyarakat menjadi lebih baik. Soal
laba, itu urusan belakangan.
Karakteristik
yang dimiliki social entrepreneur(Borstein, 2006, 1-4)
1.
Orang-orang yang mempunyai visi untuk memecahkan masalahmasalah kemasyarakatan
sebagai pembaharu masyarakat dengan gagasan-gagasan yang sangat kuat untuk
memperbaiki taraf hidup masyarakat.
2.
Umumnya bukan orang terkenal, misal : dokter, pengacara, insinyur, konsultan
manajemen, pekerja sosial, guru dan wartawan.
3.
Orang-orang yang memiliki daya transformatif, yakni orang-orang dengan gagasan
baru dalam menghadapi masalah besar, yang tak kenal lelah dalam mewujudkan
misinya, menyukai tantangan, punya daya tahan tinggi, orang-orang yang
sungguh-sungguh tidak mengenal kata menyerah hingga mereka berhasil menyebarkan
gagasannya sejauh mereka mampu.
4.
Orang yang mampu mengubah daya kinerja masyarakat dengan cara terus
memperbaiki, memperkuat, dan memperluas cita-cita.
5.
Orang yang memajukan perubahan sistemik : bagaimana mereka mengubah pola perilaku
dan pemahaman.
6.
Pemecah masalah paling kreatif.
7.
Mampu menjangkau jauh lebih banyak orang dengan uang atau sumber daya yang jauh
lebih sedikit, dengan keberanian mengambil resiko sehingga mereka harus sangat
inovatif dalam mengajukan pemecahan masalah.
8.
Orang-orang yang tidak bisa diam, yang ingin memecahkan masalahmasalah yang
telah gagal ditangani oleh pranata (negara dan mekanisme pasar) yang ada.
9.
Mereka melampaui format-format lama (struktur mapan) dan terdorong untuk
menemukan bentuk-bentuk baru organisasi.
10.
Mereka lebih bebas dan independen, lebih efektif dan memilih keterlibatan yang
lebih produktif.
Emerson
(dalam Nicholls 2006, 12) juga mendefinisikan tipe dari pelaku social
entrepreneurship, yakni :
1.Civic
innovator
(Inovator
dari kalangan sipil)
2.
Founder of a revenue generating social enterprise
(Pendiri
social enterprise yang mampu meningkatkan penerimaan)
3.
Launcher of a related revenue generating activity to create a surplus to
support social vision.
(Para
aktor yang melaksanakan aktivitas yang berhubungandengan peningkatan penerimaan
yang menciptakan surplus untuk mendukung visi sosial).
Ada pepatah yang menyatakan: Jika ingin membantu seseorang
berilah dia kail beserta umpannya sehingga dia dapat mencari ikan secara terus
menerus demi memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Jangan hanya berikan
ikannya saja karena ikan itu akan langsung habis begitu dimakan dan kedepannya
dia akan kembali meminta belas kasihan dari orang lain demi memenuhi kebutuhan
hidupnya.
Ada beberapa tokoh social entrepreneurs yang dapat dijadikan
contoh bagaimana panggilan hati mereka mengubah wajah dunia.
Muhammad Yunus adalah seorang bankir dari
negara Bangladesh yang telah berhasil mengembangkan konsep kredit mikro, yaitu
pengembangan pinjaman skala kecil untuk entrepreneur miskon yang tidak mampu
meminjam dari bank umum. Salah satu bentuk hasil implementasi gagasannya adalah
dengan mendirikan Grameen Bank. Dari keberhasilannya ini, Muhammad
Yunus berhasil mendapatkan Hadiah Budaya Asia Fukuoka XII pada tahun 2001. Lima
tahun kemudian, tepatnya pada tahun 2006, sebuah Penghargaan Nobel Perdamaian
juga berhasil diraih Muhammad Yunus beserta konsepGrameen Bank miliknya.
Sandiaga
Salahudin Uno atau sering dipanggil Sandi Uno (lahir di Rumbai, Pekanbaru, 28
Juni 1969; umur 42 tahun[1]) adalah pengusaha asal Indonesia. Sering hadir di
acara seminar-seminar, Sandi Uno memberikan pembekalan tentang jiwa
kewirausahaan (entrepreneurship), utamanya pada pemuda. Sandi Uno memulai
usahanya setelah sempat menjadi seorang pengangguran ketika perusahaan yang
mempekerjakannya bangkrut. Bersama rekannya, Sandi Uno mendirikan sebuah
perusahaan di bidang keuangan, PT Saratoga Advisor. Usaha tersebut terbukti
sukses dan telah mengambil alih beberapa perusahaan lain. Pada tahun 2009,
Sandi Uno tercatat sebagai orang terkaya urutan ke-29 di Indonesia menurut
majalah Forbes. Pada tahun 2011, Forbes kembali merilis daftar orang terkaya di
Indonesia. Sandiaga Uno menduduki peringkat ke-37 dengan total kekayaan US$ 660
juta.
Pada 2005, Anies menjadi direktur
riset pada The Indonesian Institute. Kemudian pada 2008, ia mendapat anugerah
sebagai 100 Tokoh Intelektual Muda Dunia versi Majalah Foreign Policy dari
Amerika Serikat. Pada tahun yang sama, di usia muda (38 tahun) ia menjadi
rektor Universitas Paramadina. Meskipun lahir di Kuningan, Jawa Barat, Anies
menghabiskan masa kecil hingga kuliahnya di Yogyakarta. Salah satu gerakan yang
berhasil didirikan adalah Indonesia Mengajar.
Tri Mumpuni adalah sosok ibu yang
bersahaja, rendah hati, dan ramah. Ibu dua anak yang mengabdikan dirinya bagi
masyarakat desa bersama suami tercinta, Iskandar Budisaroso Kuntoadji. Beliau
biasa dipanggil Bu Puni. Tidak
kurang 60 lokasi terpencil yang sebelumnya gelap gulita menjadi terang
benderang dengan pembangkit yang mereka bangun. Melalui Institut Bisnis dan
Ekonomi Kerakyatan (Ibeka) yang mereka bentuk memberikan penerangan dibeberapa
wilayah Indonesia dan satu lokasi di Filipina. Bu Puni ini lebih dikenal
sebagai Penjuang Mikro Hido karena telah berhasil mengembangkan
pembangkit listrik tenaga air.
Sebenarnya masih banyak lagi
tokoh-tokoh social entrepreneur yang
dapat dijadikan motivator sekaligus inspirator bagi para generasi muda saat ini
dimana melalui gagasan dan pemikiran kreatif yang dimiliki mampu menciptakan
lapangan kerja yang terkait dengan masyarakat langsung sehingga dapat
memberikan multi effect dari
tingkat hulu ke hilir. Semakin banyak masyarakat yang bisa disejahterakan maka
akan semakin banyak juga amal jariyah kita yang akan didapatkan. Jadi
kesimpulannya disini adalah memang Menjadi Entrepreneur Itu Baik Namun Menjadi Social Entrepreneur
Itu Lebih Baik. Salam perubahan
Agung Setiawan
Senin, 15 April 2013
15 APRIL 2013
“Pramuka Bukan Segala-galanya, namun
Segala-galanya dari Pramuka”
Pramuka
merupakan kegiatan ekstrakurikuler yang hampir setiap jenjang pendidikan dari
SD, SMP, SMA bahkan sampai universitas pun ada. Kegiatan ini sebagai pelatihan
softskill yang bagus bagi semua orang. Selain itu nilai-nilai kepramukaan
menanamkan banyak hal yang sangat bermanfaat bagi semua orang. Nilai kecintaan
terhadap bangsa indonesiapun dilatih dalam pramuka. Karakter dan kepribadian
juga digembleng dalam kepramukaaan. Untuk itulah kenapa ekstrakurikuler pramuka
pasti ada disetiap jenjang pendidikan.
Pertama
kali saya mengenal pramuka adalah ketika SMP. Banyak pembelajaran yang menarik
dan bermanfaat yang disampaikan dengan menarik. Dapat berupa permainan, tugas
kelompok , adu ketangkasan antar kelompok dan sebagainya. Hal tersebut menarik
saya untuk menyukai pramuka. Sehingga beruntung pertama kali saya ikut terpilih
sebagai perwakilan ambalan SMP untuk mengikuti jambore ranting pada tahun 2006.
Tidak
berhenti di SMP, ketika SMA saya juga mengikuti kegiatan pramuka. Ada yang
berbeda disini, yaitu mental lebih dilatih keras dari pada di SMP. Sehingga benar-benar tidak ada yang cengeng
di kepramukaan. Namun nilai-nilai kepramukaan tetap sebagai landasan dasar kegiatan pramuka.
Sebuah
keberuntungan dapat mewakili kontingan kabupaten untuk mengikuti kegiatan
RAIMUNA DAERAH JATENG. Sebelumnya diseleksi di kabupaten dan di dapatkan 1
kontingan putra dan 1 kontingen putrid dan saya termasuk didalam kontingen
tersebut. RAIDA tersebut dilaksanakan di Pantai Widara Payung, Cilacap pada
tahun 2009. Banyak sekali pembelajaran dan pengalaman yang luar biasa dalam
RAIDA tersebut. Beberapa piala kami dapatkan, seperti kontingan tergiat dan beberapa
penghargaan lainnya.
Setelah
menjadi Bantara (jenjang kepramukaan) ada kesempatan penentuan Pradana (pemimpin
Bantara). Saya memiliki ambisi yang besar sekali untuk dapat menjadi Pradana. Dan
kemudian hal tersebut benar-benar terjadi, saya terpilih sebagai Pradana. Padahal
ketika itu posisi saya telah menjadi Ketua Osis 1( wakil Ketua Osis Umum).
Namun dengan kesungguhan hati tetap saya terima apa yang telah menjadi harapan
sejak dulu. Dan pada masa itu adalah masa kejayaan untuk saya dapat memegang
kegiatan pramuka di SMA dan sekaligus menjalankan kepengurusan Osis. Itulah yang
menjadi tolak balik saya untuk selalu bekerjasama dalam sebuah organisasi. Dan nilai-nilai
dan jiwa kepramukaan selalu melekat dalam pribadi. Saya masih teringat dengan
perkataan Pembina pramuka dulu, “Pramuka bukanlah segala-galanya, namun
Segala-galanya dari Pramuka”.
Disamping
itu, saya juga diminta guru Pembina pramuka SMP untuk mengajar pramuka di SMP. Dan
itu merupakan hal yang menarik, dapat melatih diri untuk mengajar pramuka di
SMP. Banyak tantangan yang didapatkan ketika menjadi Pembina di SMP, seperti
teknik komunikasi yang baik, benar dan menarik dan melatih emosi terhadap
anak-anak SMP yang bandel.
Sampai
sekarang pun ketika dalam kepramukaan SMA ada kegiatan tidak jarang saya
menghadiri atau bahkan diminta mengisi sekedar memotivasi adek-adek kelas. Dan hingga
sekarang, meskipun sudah tidak melanjutkan pendidikan kepramukaan di
Universitas, namun nilai-nilai kepramukaan selalu menjadi prnsip dalam
bertindak.
Selasa, 09 April 2013
PEMANTIK PANGGILAN HATI
Jogjakarta
– Benteng Vredebrug dipenuhi para pengunjung yang datang. Kali ini pengunjung
lebih banyak dari biasanya dikarenakan ada acara Jogjanesia yang
diselenggarakan oleh forum Komunitas Sosial se Jogja. Dalam acara tersebut
mendatangkan berbagai komunitas sosial di Jogja.
“Saya salut dengan teman-teman
komunitas-komunitas itu” ujar Rizkam,pengunjung sekaligus Ketua BEM Farmasi di
tengah keramaian stand komunitas(03/03/2013). Berbagai cara dan langkah yang
mereka lakukan untuk memberikan kemanfaatan bagi orang-orang yang membutuhkan.
Ada yang hanya dengan pengumpulan koin hingga terjun langsung memberikan jasa
sosialnya untuk orang-orang yang membutuhkan.
“Saya jadi tertarik” ungkap Ketua
BEM Farmasi tersebut. “Orang-orang yang
mau memberikan waktunya untuk orang yang membutuhkan adalah orang yang hebat”
tambahnya. Berbagi adalah kata kunci dalam memberikan makna kemanfaatan untuk
orang lain.
Dengan terlaksananya Jogjanesia harapannya
dapat membuka wawasan kepada masyarakat bahwa masih ada segelintir orang yang
peduli. Acara ini hanya sebagai pemantik kepada masyarakat agar dapat
memberikan kemanfaatan hidupnya untuk orang lain. Bisa dengan berbagi materi
maupun jasa sosialnya.
“Acara seperti ini perlu
dilaksanakan lagi” kata Rizkam, ketua BEM Farmasi. Banyak hal yang didapat dari
acara ini, seperti link untuk menyalurkan bantuan dan penanaman nilai-nilai
sosial.
Diluar sana ada beberapa orang yang
tidak peduli dengan keadaan orang lain. Namun diyakini pasti mereka sudah
berbagi meski bukan disini, karena tidak perlu membuat wadah baru untuk berbagi
kemanfaatan kepada orang lain. “jangan pesimis, lakukan apa yang dapat
dilakukan untuk berbagi kepada orang lain.” Ujar ketua BEM Farmasi, Rizkam.
“Hidup-hidupilah Indonesia!” kata
Rizkam. Pesan sosial untuk orang-orang yang tidak hidup sendiri.
Agung
Setiawan/Ilmu Keperawatan Gigi/2011/UGM
Rabu, 06 Februari 2013
MOTIVASI DIRI SANGAT DIPERLUKAN
"Jatuh dari ketinggian memang sakit, namun bagaimana agar dapat memantulkan setinggi-tingginya dari jatuh tersebut"
usaha , korban, resiko harus dilalui, tidak akan ada keringat sia-sia.
jauh disana lebih banyak orang yang tidak beruntung, dimanakah wujud rasa syukurmu?
cobaan yang diberikan pastilah tidak akan melampaui batas kemampuanmu, hal tersebut harus kau ketahui.
agar kamu dapat bangkit dari jatuhmu.
usaha , korban, resiko harus dilalui, tidak akan ada keringat sia-sia.
jauh disana lebih banyak orang yang tidak beruntung, dimanakah wujud rasa syukurmu?
cobaan yang diberikan pastilah tidak akan melampaui batas kemampuanmu, hal tersebut harus kau ketahui.
agar kamu dapat bangkit dari jatuhmu.
Langganan:
Postingan (Atom)