Senin, 15 April 2013
15 APRIL 2013
“Pramuka Bukan Segala-galanya, namun
Segala-galanya dari Pramuka”
Pramuka
merupakan kegiatan ekstrakurikuler yang hampir setiap jenjang pendidikan dari
SD, SMP, SMA bahkan sampai universitas pun ada. Kegiatan ini sebagai pelatihan
softskill yang bagus bagi semua orang. Selain itu nilai-nilai kepramukaan
menanamkan banyak hal yang sangat bermanfaat bagi semua orang. Nilai kecintaan
terhadap bangsa indonesiapun dilatih dalam pramuka. Karakter dan kepribadian
juga digembleng dalam kepramukaaan. Untuk itulah kenapa ekstrakurikuler pramuka
pasti ada disetiap jenjang pendidikan.
Pertama
kali saya mengenal pramuka adalah ketika SMP. Banyak pembelajaran yang menarik
dan bermanfaat yang disampaikan dengan menarik. Dapat berupa permainan, tugas
kelompok , adu ketangkasan antar kelompok dan sebagainya. Hal tersebut menarik
saya untuk menyukai pramuka. Sehingga beruntung pertama kali saya ikut terpilih
sebagai perwakilan ambalan SMP untuk mengikuti jambore ranting pada tahun 2006.
Tidak
berhenti di SMP, ketika SMA saya juga mengikuti kegiatan pramuka. Ada yang
berbeda disini, yaitu mental lebih dilatih keras dari pada di SMP. Sehingga benar-benar tidak ada yang cengeng
di kepramukaan. Namun nilai-nilai kepramukaan tetap sebagai landasan dasar kegiatan pramuka.
Sebuah
keberuntungan dapat mewakili kontingan kabupaten untuk mengikuti kegiatan
RAIMUNA DAERAH JATENG. Sebelumnya diseleksi di kabupaten dan di dapatkan 1
kontingan putra dan 1 kontingen putrid dan saya termasuk didalam kontingen
tersebut. RAIDA tersebut dilaksanakan di Pantai Widara Payung, Cilacap pada
tahun 2009. Banyak sekali pembelajaran dan pengalaman yang luar biasa dalam
RAIDA tersebut. Beberapa piala kami dapatkan, seperti kontingan tergiat dan beberapa
penghargaan lainnya.
Setelah
menjadi Bantara (jenjang kepramukaan) ada kesempatan penentuan Pradana (pemimpin
Bantara). Saya memiliki ambisi yang besar sekali untuk dapat menjadi Pradana. Dan
kemudian hal tersebut benar-benar terjadi, saya terpilih sebagai Pradana. Padahal
ketika itu posisi saya telah menjadi Ketua Osis 1( wakil Ketua Osis Umum).
Namun dengan kesungguhan hati tetap saya terima apa yang telah menjadi harapan
sejak dulu. Dan pada masa itu adalah masa kejayaan untuk saya dapat memegang
kegiatan pramuka di SMA dan sekaligus menjalankan kepengurusan Osis. Itulah yang
menjadi tolak balik saya untuk selalu bekerjasama dalam sebuah organisasi. Dan nilai-nilai
dan jiwa kepramukaan selalu melekat dalam pribadi. Saya masih teringat dengan
perkataan Pembina pramuka dulu, “Pramuka bukanlah segala-galanya, namun
Segala-galanya dari Pramuka”.
Disamping
itu, saya juga diminta guru Pembina pramuka SMP untuk mengajar pramuka di SMP. Dan
itu merupakan hal yang menarik, dapat melatih diri untuk mengajar pramuka di
SMP. Banyak tantangan yang didapatkan ketika menjadi Pembina di SMP, seperti
teknik komunikasi yang baik, benar dan menarik dan melatih emosi terhadap
anak-anak SMP yang bandel.
Sampai
sekarang pun ketika dalam kepramukaan SMA ada kegiatan tidak jarang saya
menghadiri atau bahkan diminta mengisi sekedar memotivasi adek-adek kelas. Dan hingga
sekarang, meskipun sudah tidak melanjutkan pendidikan kepramukaan di
Universitas, namun nilai-nilai kepramukaan selalu menjadi prnsip dalam
bertindak.
Selasa, 09 April 2013
PEMANTIK PANGGILAN HATI
Jogjakarta
– Benteng Vredebrug dipenuhi para pengunjung yang datang. Kali ini pengunjung
lebih banyak dari biasanya dikarenakan ada acara Jogjanesia yang
diselenggarakan oleh forum Komunitas Sosial se Jogja. Dalam acara tersebut
mendatangkan berbagai komunitas sosial di Jogja.
“Saya salut dengan teman-teman
komunitas-komunitas itu” ujar Rizkam,pengunjung sekaligus Ketua BEM Farmasi di
tengah keramaian stand komunitas(03/03/2013). Berbagai cara dan langkah yang
mereka lakukan untuk memberikan kemanfaatan bagi orang-orang yang membutuhkan.
Ada yang hanya dengan pengumpulan koin hingga terjun langsung memberikan jasa
sosialnya untuk orang-orang yang membutuhkan.
“Saya jadi tertarik” ungkap Ketua
BEM Farmasi tersebut. “Orang-orang yang
mau memberikan waktunya untuk orang yang membutuhkan adalah orang yang hebat”
tambahnya. Berbagi adalah kata kunci dalam memberikan makna kemanfaatan untuk
orang lain.
Dengan terlaksananya Jogjanesia harapannya
dapat membuka wawasan kepada masyarakat bahwa masih ada segelintir orang yang
peduli. Acara ini hanya sebagai pemantik kepada masyarakat agar dapat
memberikan kemanfaatan hidupnya untuk orang lain. Bisa dengan berbagi materi
maupun jasa sosialnya.
“Acara seperti ini perlu
dilaksanakan lagi” kata Rizkam, ketua BEM Farmasi. Banyak hal yang didapat dari
acara ini, seperti link untuk menyalurkan bantuan dan penanaman nilai-nilai
sosial.
Diluar sana ada beberapa orang yang
tidak peduli dengan keadaan orang lain. Namun diyakini pasti mereka sudah
berbagi meski bukan disini, karena tidak perlu membuat wadah baru untuk berbagi
kemanfaatan kepada orang lain. “jangan pesimis, lakukan apa yang dapat
dilakukan untuk berbagi kepada orang lain.” Ujar ketua BEM Farmasi, Rizkam.
“Hidup-hidupilah Indonesia!” kata
Rizkam. Pesan sosial untuk orang-orang yang tidak hidup sendiri.
Agung
Setiawan/Ilmu Keperawatan Gigi/2011/UGM
Rabu, 06 Februari 2013
MOTIVASI DIRI SANGAT DIPERLUKAN
"Jatuh dari ketinggian memang sakit, namun bagaimana agar dapat memantulkan setinggi-tingginya dari jatuh tersebut"
usaha , korban, resiko harus dilalui, tidak akan ada keringat sia-sia.
jauh disana lebih banyak orang yang tidak beruntung, dimanakah wujud rasa syukurmu?
cobaan yang diberikan pastilah tidak akan melampaui batas kemampuanmu, hal tersebut harus kau ketahui.
agar kamu dapat bangkit dari jatuhmu.
usaha , korban, resiko harus dilalui, tidak akan ada keringat sia-sia.
jauh disana lebih banyak orang yang tidak beruntung, dimanakah wujud rasa syukurmu?
cobaan yang diberikan pastilah tidak akan melampaui batas kemampuanmu, hal tersebut harus kau ketahui.
agar kamu dapat bangkit dari jatuhmu.
Rabu, 19 Desember 2012
Pengembangan Jiwa Sosial
Agung
Setiawan
Ilmu
Keperawatan Gigi/ Fakultas Kedokteran Gigi/Universitas Gadjah Mada/2011
Kisah
ini dimulai dari asa yang terpendam dan ragu. Sempat terfikir untuk berhenti
melangkah. Mulai ada seberkas sinar menerangi jalanku. Suara itu masih teringat
jelas dalam otak tengahku, “Jangan putus sekolah sampai disini! Insya allah
bapak dan ibu akan sekuat tenaga membiayai”. Aku tidak ingin mengecewakan orang
tuaku. Aku bertekat untuk tetap bersekolah meski tak tahu mampu atau tidak.
Sungguh
Allah bersama dengan orang-orang yang sabar. Aku dapat melanjutkan kuliah dan
mendapatkan beastudi etos. Inilah yang aku harapkan. Tidak ingin membebani
orang tua dengan kebutuhanku kuliah. Apalagi adik-adikku sudah menginjak SMA
dan SMP. Kebutuhan hidup dan biaya sekolah adik-adikku lebih penting dari pada
biaya kuliahku. Karena sungguh beruntung aku dipertemukan dengan beastudi etos.
Awal
masuk beastudi etos aku kira akan terkekang oleh aturan yang kian beratnya.
Namun aku coba tetap bertahan meski kutahu aku tak sempurna. Aku hiraukan
segala kekuranganku. Meski begitu aku coba memperbaiki sedikit demi sedikit.
Karena hasil adalah ketentuan Allah dan aku hanya bisa berusaha memperbaiki dan
menjaganya.
Banyak
sekali pembinaan yang dilakukan oleh beastudi etos. Mulai dari pembinaan
angkatan, pembinaan bersama, pembinaan asrama dan pembinaan lainnya. Pembinaan
lain tersebut ada pula yang dilakukan melalui kegiatan sosial seperti
pengelolaan SDP(sekolah desa produktif),THQ(tebar hewan kurban), kegiatan
pengembangan diri dalam kepanitiaan seperti Toenas(try out etos nasional), Up
grading, dan TENS(Temu Etos Nasional). Masih ada banyak lagi kegiatan diluar
itu seperti panitia seleksi masuk beastudi etos, kurma(kunjungan ramadhan),
rihlah, inisiasi etos dan sebagainya.
Satu
tahun lebih telah berada di beastudi etos dompet dhuafa, banyak hal telah
dilalui. Dimulai dari inisiasi etoser baru. Aku katakan bahwa cukup menarik dan
menantang, kenapa demikian. Yah, kami hanya diberi petunjuk amplop surat yang berisi
pertanyaan dan pernyataan untuk dapat menuju lokasi inisiasi. Berkat kerjasama
dan kolaborasi dari berbagai latar belakang kami, maka kami dapat memecahkan
teka-teki dalam amplop tersebut dan sampai di lokasi tepat waktu. Dalam
kegiatan inisiasi ada satu hal yang menarik yaitu FAS(festival anak sholeh),
dengan antusias warga begitu besar dalam ikut menyemarakkan FAS pada bulan
ramadhan.
Banyak
wajah-wajah asing yang nampak di pandanganku. Mereka begitu hebat dengan latar
belakang masing-masing orang berbeda. Ketika sesi kegiatan “Who am I?” aku
mendengarkan kisah perjuangan dari teman-teman yang begitu panjang dan
berliku-liku. Ada yang hingga menunggu 1 tahun untuk dapat melanjutkan kuliah,
ada yang ketika SMA sambil bekerja, ada yang berkelana ke berbagai universitas
dulu dan akhirnya sampailah disini. Begitu menarik dan menginspirasi
kisah-kisah hidup mereka. Kemudian ketika aku bercerita tentang kisahku. “Kisahku
tidak semenarik punya teman-teman, hingga begitu berat perjuangan kalian untuk
meraih sesuatu. Kalau aku bisa sampai disini ya mungkin ini sudah rencana Allah
padaku. Yang penting aku bersyukur atas apa yang telah Allah berikan padaku.
Kisah hidupku biasa saja, tidak ada yang menarik, hanya kalau di keluarga
mungkin aku yang lebih diandalkan untuk menjaga adik-adik dan membantu kakek
untuk memelihara sapi dan kambing. Pernah aku ditubruk sapi hingga aku
menangis, karena aku masih takut, ketika itu masih SD.” Itu sedikit penggalan
yang aku ceritakan ketika sesi who am I. Banyak dari mereka yang ketawa, dari
cerita teman-teman sebelumnya banyak rasa haru yang muncul tapi ketika aku
bercerita malah membuat para etoser ketawa terbahak-bahak.
Memang
aku orangnya tidak begitu suka dengan hal-hal yang kaku harus mengikuti aturan
atau malah menyedihkan. Aku lebih menyukai hal-hal yang membuat senang dan
membuat pikiran segar. Bahkan ketika menghadapi suatu hal yang membuat tegang
aku tidak antusias merasa jengkel terhadap sistem yang dibuat kaku dan harus
ini harus itu. Itulah sebabnya aku orangnya tidak mempedulikan apa
kekuranganku, namun tetap ada introspeksi diri dari diriku sendiri untuk
mencoba memperbaiki sisi kekuranganku. Aku tidak suka dengan hal-hal yang ribet
dan administrative. Mending langsung gerak dan realistis saja dari pada hanya berkata-kata
tidak ada tindakan real. Itulah prinsip yang masih aku pegang.
Kembali
lagi ke kegiatan beastudi etos. Pada bulan ramadhan biasanya kegiatan etos
cukup banyak, seperti kunjungan ramadhan dan pengajian serta FAS pun juga
dilaksanakan. Pada tahun 2011 kunjungan ramadhan dan pengajian dilakukan
sekaligus pada saat inisiasi. Nah, aku teringat ketika memberikan pengumuman ke
mushola-mushola di disa inisiasi. Kami dibagi menjadi beberapa kelompok untuk
mengumumkan tentang akan adanya pengajian dan FAS untuk anak-anak di daerah
tersebut. Aku mengawali dengan salam dan perkenalan, karena tempatnya di
pedesaan jawa, maka bahasa jawa krama halus pun harus dilestarikan. Aku mencoba
menggunakan bahasa jawa karma halus. Entah sadar atau tidak salah satu kakak tingkat(etoser)
setelah selesai mengumumkan beliau bilang kepadaku. “Gung, bahasa jawa karma
halusmu harus kamu perbaiki, hehehe tadi ada beberapa kata yang tidak
sepantasnya kamu ucapkan untuk warga disana. Oke? Sip”. Ternyata meskipun aku
sendiri dari jawa namun perlu adanya peningkatan penguasaan bahasa jawa krama
halus untukku. “Okelah itu hanyalah permulaan untuk menjadi lebih baik di
kemudian harinya.” Kataku dalam hati.
Ada
satu kegiatan yang bagiku begitu menarik dan menyenangkan, yaitu up grading. Persiapan
untuk menuju up grading pun kami banyak sekali yang harus dipersiapkan, seperti
membeli barang-barang makanan mentah dan alat outbound.
Berbekal
barang pribadi dan makanan mentah serta alat outbound kami melukukan
perjalanan. Sebelumnya, rute yang diberikanpun hanya teka-teki untuk mencapai
tempat yang dimaksudkan. Dengan usaha sekeras mungkin kami menemukan tempat
tujuan dengan naik angkot umum. Kami berangkat pukul 04.30 WIB dengan suhu yang
cukup dingin kami mandi dan siap berangkat. Cukup lama kiranya ketika menunggu
akhwat untuk berangkat pagi. Dan akhirnya pun kami dapat berangkat menuju titik
tujuan amplop pertama dan selanjutnya.
Dalam
perjalanan yang ternyata semakin ke atas itu semakin berat bagi bus untuk dapat
naik keatas, karena mobil sudah tua. Sehingg mobil yang ditempati ikhwan mogok
karena kepanasan pada mesinnya. Kemudian kami menunggu jemputan dari bus yang
tadinya nganterin akhwat. Begitu nasib atau ada hikmah dibalik bencana
tersebut.
Sampai
pada tempat tujuan terakhir kami masih harus berjalan sepanjang 7 hingga 10
kilo meter untuk menuju lokasi. Karena mobil atau bus tidak bisa masuk kedalam.
Sehingga kami harus melewati jalan berbatu di tanjakan yang tinggi dan derajat
kemiringannya 45-25 derajat.
Ketika
berkoordinasi dan perkenalan dengan warga tersebut, kami menjelaskan, “ kami
beastudi etos dari dompet dhuafa ingin melakukan beberapa kegiatan di desa ini.
Salah satunya adalah berkontak sosial dan mengikuti apa yang bapak dan ibu
kerjakan setiap harinya. Kami berada disini maksimal hanya 3 hari.” Hal
tersebut diatas kenapa menjadi hal yang penting karena orientasi atau
perkenalan adalah tahap awal untuk menarik dan meyakinkan orang bahwa kami ke
sini insya Allah membawa kebermanfaatan bagi diri sendiri dan orang lain.
Kami
mengikuti kegiatan salah satu warga tersebut, yaitu mencari rumput untuk hewan
peliharaanya dan beruntungnya aku dapat kesempatan untuk ikut memanen wortel
dan loncang. Cukup berat beban barang-barang tersebut bagi orang yang tidak
pernah atau jarang mengangkat beban segitu.
Betapa
tangguhnya orang-orang lereng merbabu ini, berangkat ke sawah pagi-pagi dan
mampu mengangkat beban seberat badannya sendiri. Bahkan yang mengangkat adalah
para perempuan yang masih muda. Rata-rata dari warga tersebut pendidikan yang
di dapat hanyalah sampai SD saja, karena letak SMP dan SMA yang jauh dan
pandangan mereka tentang sekolah tidak baik. Mereka beranggapan, “Buat apa
sekolah tinggi-tinggi, mending langsung bantu orang tua disawah saja biar dapat
uang.” Itulah paradigma warga yang tidak mudah merubahnya jika di daerah
tersebut belum ada SMP dan SMA yang berdiri di di sekitar daerah tersebut.
Dalam
kegiatan up grading kami juga melakukan outbound. Ada hal yang lucu dalam
outbound tersebut, yaitu aku dan timku nyasar. Kami bingung mencari rute jalan
yang benar, sehingga kami terus berjalan untuk mencari panitia di sekitar
tempat tersebut. Kami berhenti sejenak menghela nafas dan perut pun jadinya
demo agar diisi dahulu.
Ketika
meregangkan otot kami menemukan adanya ladang wortel yang untungnya ada
pemiliknya. Kami minta beberapa wortel agar dapat mengisi perut kosong ini,
namun wortelnya masih kecil dan belum waktunya untuk dipanen. Kemudian kami
tetap berjalan entah kemana. Melihat ada pemukiman, maka kami ke pemukiman tersebut.
Beruntungnya kami di jamu oleh pemilik rumah dengan cukup mewah. Kemudian kami
berpamitan dan mengucapkan terima kasih atas kebaikan hatinya.
Di
sisi agama, desa ini sudah cukup baik, setiap selesai sholat dzuhur selalu
ngaji di masjid. Rentang mengajinya pun
cukup lama, dari habis dzuhur sampai menjelang maghrib. Mereka adalah
anak-anak dari usia SD sampai usia SMP.
Ada
satu kegiatan beastudi etos yang menurutku selalu teringat dan menarik, yaitu
THQ(tebar hewan kurban). Pada tahun 2011 THQ dilaksanakan di kulon progo,
tepatnya desa tapen, kelurahan hargomulyo, kecamatan kokap, kabupaten kulon
progo. Ada cerita menarik ketika aku dan temanku zaenal membawa kambing dari
dompet dhuafa menggunakan motor. Kambing yang kami bawa ini tidak begitu besar.
Ketika perjalanan, baru mencapai seperempat perjalanan motor kami bannya bocor,
sehingga harus di tambal. Kami mencari tempat tambal sekaligus aku perhatikan
kambing ini merasa kesakitan dan lemas ketika dibawa pakai motor. Padahal jarak
tempuh yang akan dilalui sekitar satu seperempat jam. Syukur Alhamdulillah kami
menemukan sebuah bengkel di pnggir jalan dan kami istirahat sekaligus
menambalkan ban motor serta mengistirahatkan kambing yang nampak lemas
tersebut. Ketika kambing di lepas nampak rasa senang pada muka kambing
tersebut, ia berjalan kesana kemari sambil makan rumput yang ada di samping
bengkel tersebut. Setelah selesai kami lanjutkan kembali perjalanan panjang
menuju tempat THQ.
Dalam
rangkaian THQ ada beberapa kegiatan yang disisipkan seperti pemeriksaan
kesehatan gratis, bazar sembako, FAS, dan penyuluhan penyembelihan hewan
kurban.
Kegiatan
sosial yang lain adalah pengembangan SDP(sekolah desa produktif). Berfokus pada
pemberdayaan masyarakat untuk menghasilkan output jangka panjang yang berkualitas.
Pengorbanan untuk berbagi dengan mereka sangatlah besar. Karena tidak ada
timbal balik secara langsung dapat dirasakan oleh orang tersebut. Pada periode
ini amanah yang aku emban adalah mengkoordinir pengelolaan SDP Bronggang Suruh.
Butuh dukungan dan keteguhan hati serta kesabaran untuk mengelola hal yang
menyangkut orang banyak.
Dalam
melaksanakan kegiatan tersebut tentunya jiwa sosial tiap orang pastinya akan
muncul dan merasa bahwa sedikit saja peran kita dalam kegiatan sosial atau
apapun, namun itu memberi manfaat yang besar maka berbahagialah karena kamu
termasuk orang-orang yang dapat berbagi dan tidak sia-sia.
Mari
berbagi, mari memberi, uluran tanganmu dibutuhkan mereka.
Salam
pengabdian!!!
Rabu, 05 Desember 2012
KPK VS POLRI
(ronde 2)
“Inspektur
Jendral Joko Susilo”
Kali
ini KPK akan mengungkap kasus Inspektur Jendral Joko Susilo, mantan kepala
korps lalu lintas tersebut di duga tersangka kasus korupsi pengadaan alat simulasi mengemudi yang
diperkirakan merugikan negara Rp 100 miliar. Untuk penyidik dari KPK adalah
komisaris Novel. Entah apa dan mengapa nampaknya Kepala Polri Jenderal Timur
Pradopo hanya omong kosong terkait
mendukung KPK terhadap penyelesaian kasus tersebut. Hal tersebut Nampak dari
akan ditariknya beberapa penyidik KPK dikarenakan masa tugasnya telah selesai.
Dan pihak polisi enggan memberikan perpanjangan masa tugas KPK.
Ironis ketika
para penegak keadilan malah saling menjatuhkan atau saling beradu hanya untuk
kepentingan pribadi atau golongan. Yang sebenarnya malah akan memperlama proses
hukum dan ujung-ujungnya Negara hanya menghambur-hamburkan uang untuk hal-hal
yang tidak berguna. Mereka yang dianggap oleh masyarakat sebagai orang yang
bisa menyelamatkan bangsa ini, tapi ternyata sebaliknya, mereka hanya
mementingkan pribadi dan golongan. Jika hal semacam ini tidak ada perbaikan,
maka kapan Negara ini akan maju? Yang ada hanya berkembang terus, tidak pernah
berbuah. Karena mungkin bunganya selalu gugur oleh tangan-tangan tak bertanggung
jawab di atas sana.
Kasus
Inspektur Jendral Joko Susilo menjadi ronde 2 untuk perseteruan KPK dengan
Polri. Dari polri nampak hanya omong kosong untuk mendukung KPK dalam kasus
tersebut. Penarikan KPK merupakan salah satu langkah yang dilakukan polri untuk
balas dendam terhadap KPK. Terlihat KPK dan Polri masih memiliki ketegangan
satu dengan yang lain. Sehingga mereka hanya akan sibuk terhadap sikap
ketegangan tersebut dan kasus tersebut lagi-lagi lama terselesaikannya.
Jika kita
berkaca ke berbagai kasus yang dibuka KPK memang hanya dibuka kasus saja, untuk
menutup kasus tersebut sangatlah lama. Malah semakin menyeret nama-nama oknum
di jajaran pemerintahan yang ternyata pemerintahan ini bobrok. Hampir di setiap
sektor dan bidang pemerintahan memiliki kasus terkait korupsi. Dimulai dari
uang terima kasih atas dimenangkannya tender sampai uang pelicin untuk
mempermudah terlaksananya sesuatu. Dan hal tersebut sudah menjadi rahasia umum.
Praktek
penyalahgunaan tersebut terjadi karena mereka memiliki peluang untuk melakukan
tindakan curang dan tidak terpuji tersebut. Peluang untuk melakukan tindakan
tersebut sangalah besar. Apalagi ada beberapa wilayah kekuasaan yang mau tidak
mau harus mengikuti aturan main di wilayah tersebut. Sehingga meskipun ada
orang yang pada awalnya ingin berbuat baik, namun setelah masuk ke wilayah
tersebut harus mengikuti jalan sesat tersebut.
Khusus pada
perseteruan antara KPK dan Polri ini memang tidak secara terang terangan, namun
dapat dirasakan oleh masyarakat. Nampak dari kinerjanya, ada pihak yang
mempersulit, ada yang saling menjatuhkan. Nah, hal tersebut sekali lagi hanya akan
membuat sia-sia tugas mereka sebagai penegak hukum.
KPK tidak
memiliki badan pengawas? Lagi-lagi jika suatu badan berdiri harus ada pengawas.
Terus apakah jika ada pengawas maka kinerjanya bagus? Apakah setelah ada
pengawas maka tindakan penyelewengan kekuasaan akan dicegah? Kalau dilihat dari
beberapa badan yang berdiri, entah wakil rakyat atau komisi dan sebagainya yang
sudah memilik pengawas tapi sama saja, mereka masih melakukan penyelewengan
kekuasaan. Badan pengawas tidak begitu berpengaruh. Malah kadang badan pengawas
tersebutlah yang melakukan penyelewengan. Atau saling bekerjasama antar badan
amaupun dengan pengawas untuk menyalahgunakan kekuasaan untuk pribadi atau
golongan.
Di Indonesia
memiliki banyak sekali badan atau lembaga Negara dan pemerintahan. Namun masih
kurang efektif untuk bekerja, makah dinilai Negara itu rugi memberikan uang
saku dan penunjang fasilitas lainnya terhadap jajaran Negara dan pemerintahan
tersebut. Karena alokasi daa terhadap mereka pun tidak sedikit, masyarakat yang
notabenya lebih membutuhkan tidak terjamah, namun orang-orang yang mementingkan
dirinya sendiri dan golongan enak-enakan menikmati uang rakyat tersebut.
Harapannya
semua jajaran petinggi Negara dan pemerintahan serta para penegak hukum agar
bekerja dengan sebaik-baiknya. Karena tugas tersebut adalah amanah dari rakyat,
untuk menjadi pemimpin dan pengarah yang baik untuk Indonesia agar lebih baik.
Jumat, 09 November 2012
Langganan:
Postingan (Atom)