Sabtu, 01 Juni 2013

Rasa syukurku.

Pada tahun 1993, hari selasa kliwon tanggal 11 Mei 1993 di dusun Nganjung-anjung, Kelurahan Ngablak, Kecamatan Wonosegoro, Kabupaten Boyolali, lahirlah seorang bayi laki-laki yaitu aku. Agung Setiawan. Aku adalah putra dari pasangan Wagiman dan Siti Safaah. Orang tuaku menikah ada tahun 1992. Aku berdarah asli Jawa, yang mana kedua orangtuaku asli dari Kabupaten Semarang dan Boyolali. Sejak lulus SMA Swasta di Jakarta ayahku bekerja sebagai buruh bangunan. Dan sekarang pun masih bekerja sebagai buruh bangunan. Entah mengapa meskipun lulusan SMA ayahku susah mencari pekerjaan yang lebih baik. Namun demikian itulah jalan yang dipilih ayahku. Namun ketika beliau merantau di Jakarta beliau pernah bekerja sebagai tukang ojek sepeda onthel, bekerja di fotocopyan dan lain-lain. Sedangkan ibuku hanya lulusan SD. Beliau pernah bekerja di sebuah pabrik tekstil di Jakarta selama kurang lebih 8 tahun. Sejak tahun 2007 ibuku di pecat dari pabrik dan selama 3 tahun lebih hanya di rumah. Kemudian pada akhir tahun 2011 ibuku mencoba berjualan jamu di Karawang Jawa Barat. Jamu yang di jual berupa beras kencur, kunyit asem, jahe dan beberapa ramuan pahit dari tanaman tradisional serta obat jamu sachet. Dan hingga sekarang masih bertahan sebagai penjual jamu di Karawang.
Aku merupakan anak pertama dari 3 bersaudara. Adik pertamaku lahir ada tahun 1996, namanya Rizal Khuzzai, dan adik keduaku lahir pada tahun 1998, namanya Novia Kusuma A. pada tahun 1999 aku masuk Sekolah Dasar  1 Ngablak. Aku adalah tipe orang yang pendiam, menurut pada orang tua dan tidak memaksakan kehendak. Sehingga banyak sanak saudara yang mengatakan bahwa aku ini anak yang penurut dan mudah diatur. Ketika berada di SMPN 2 Wonosegoro pada tahun 2005, teman-temanku juga menganggap bahwa aku ini orang yang sabar, tapi masih penakut. Ya memang untuk mental mungkin aku masih kurang. Pernah suatu ketika masih SD aku diminta membeli suatu barang, tapi aku salah membeli barang yang diinginkan kemudian aku pun menangis, padahal orang tuaku tidak memarahiku, mereka hanya menasehatiku.
Sejak SD rangking yang aku dapat tidak begitu buruk, meskipun hanya 2 kali juara kelas namun setidaknya 5 besar pasti aku masuk. Mungkin karena logikaku yang cukup baik yang bisa membuatku masuk 5 besar. Untuk belajar  sangat jarang sekali,aku hanya mengandalkan mendengarkan guru di kelas. Bermodalkan catatan dan memperhatikan gurulah yang membuatku paham apa yang diajarkan. Selain itu berdiskusi dengan teman juga sangat membantu ingatan agar lebih mengerti.
Hampir sejak kecil aku tinggal bersama kakek nenek, karena orang tuaku yang merantau mencari nafkah ke ibu kota. Hanya sesekali kadang pulang untuk beristirahat di rumah, dan tiap idul fitri pasti pulang. Aku dan kedua adikku diasuh oleh kakek nenekku. Dari memasakkan makanan sampai aktifitas pun juga mengikuti kakek nenek, yaitu ke sawah dan menggembala kambing. Sudah menjadi hal yang biasa bermain di sawah dan kebun.
Ketika SMP keberanianku mulai muncul sejak mengenal pramuka. Hal yang menyenangkan dan menarik aku dapatkan dari pramuka. Masuk Kelas 3 SMP ibuku sudah tidak bekerja lagi di Jakarta, sehingga ibuku membantu kakek nenek bertani di desa. Dan pada waktu itu keadaan ekonomi kami cukup memprihatinkan. Untuk mencukupi makan dan kebutuhan rumah tangga kami harus berhutang beras kepada juragan beras. Namun hal tersebut tidak mengecilkan hati kami untuk terus berusaha.
Tahun 2008 aku masuk SMAN 1 Karanggede, sebuah SMA yang berkembang di perbatasan kabupaten. Dapat dikatakan bahwa aku dibesarkan di SMA tersebut. Karena hampir seluruh waktuku aku habiskan di SMA. Mulai dari berangkat sekolah hingga mengikuti kegiatan ekstrakurikuler di SMA. Bahkan ibuku menegurku, “ kamu itu sekolah atau karyawan? Kok pulangnya maghrib terus.”. Yah memang inilah masa-masa yang banyak tingkah. Tapi betapa menikmatinya dengan aktifitas seperti itu.. Mulai mengenal organisasi secara menyeluruh adalah masa SMA ini. OSIS, PRAMUKA,Club belajar dan lain-lain menjadi hal yang jangan sampai disia-siakan.
Hobi yang sudah sering aku lakukan ketika SMP adalah bermain gitar, ketika SMA muncul inisiatif untuk membentuk band dari teman-teman se-SMP dulu. Dan terbentuklah band tersebut dengan nama KAVOS. Yang terdiri dari Khamim, Agung, Feri,Eko, Danu S. Dan nama tersebut di ambil dari Abjad nama-nama personelnya. Pertama kali kami tampil ketika pensi tahunan. Kemudian tampil untuk yang kedua kalinya ketika perpisahan. Nah kami menyanyikan lagu yang kami buat sendiri. Dan yang terakhir ketika pensi tahunan lagi.  
Ipa adalah jurusan yang aku ambil di SMA, dengan berbagai pengetahuan yang luar biasa dari guru-guru yang sangat memotivasi. Lulus SMA masih bingung mau kemana. Mencoba SNMPTN undangan, namun masih belum diterima. Kemudian daftar SNMTN tulis. Sungguh hal yang tidak terduga, aku diterima di Keperawatan Gigi UGM. Jurusan yang sama sekali belum tahu akan belajar apa kelak.
15 Juli 2011 adalah tanggal aku terdaftar sebagai mahasiswa di UGM. Dengan perjuangan meminta keringanan biaya akhirnya bisa masuk UGM. Syukur Alhamdulillah Beastudi Etos aku dapatkan. Aku tinggal di asrama sejak pertama masuk kuliah. Dan sekarang sudah semester 4, banyak hal baru juga yang aku dapatkan di dunia kampus ini.

Mengenai prestasi dan sebagainya aku tidak sehebat teman-teman etoser (penerima beasiswa etos) lainnya. Namun, rasa syukurlah yang aku anggap paling penting untuk memaknai segala hal tersebut. Harapanku adalah aku dapat menjadi solusi untuk orang-orang di sekitarku secara langsung maupun tidak secara langsung.

Minggu, 12 Mei 2013

Sosial Enterpreneur





Akhir-akhir ini istilah social entrepreneur atau kewirausahaan sosial semakin santer terdengar. Seseorang terdorong menjadi Social entrepreneur bukan karena kepincut oleh laba yang akan dihasilkan, melainkan ingin mengubah suatu keadaan di masyarakat menjadi lebih baik. Soal laba, itu urusan belakangan.
Karakteristik yang dimiliki social entrepreneur(Borstein, 2006, 1-4)
1. Orang-orang yang mempunyai visi untuk memecahkan masalahmasalah kemasyarakatan sebagai pembaharu masyarakat dengan gagasan-gagasan yang sangat kuat untuk memperbaiki taraf hidup masyarakat.
2. Umumnya bukan orang terkenal, misal : dokter, pengacara, insinyur, konsultan manajemen, pekerja sosial, guru dan wartawan.
3. Orang-orang yang memiliki daya transformatif, yakni orang-orang dengan gagasan baru dalam menghadapi masalah besar, yang tak kenal lelah dalam mewujudkan misinya, menyukai tantangan, punya daya tahan tinggi, orang-orang yang sungguh-sungguh tidak mengenal kata menyerah hingga mereka berhasil menyebarkan gagasannya sejauh mereka mampu.
4. Orang yang mampu mengubah daya kinerja masyarakat dengan cara terus memperbaiki, memperkuat, dan memperluas cita-cita.
5. Orang yang memajukan perubahan sistemik : bagaimana mereka mengubah pola perilaku dan pemahaman.
6. Pemecah masalah paling kreatif.
7. Mampu menjangkau jauh lebih banyak orang dengan uang atau sumber daya yang jauh lebih sedikit, dengan keberanian mengambil resiko sehingga mereka harus sangat inovatif dalam mengajukan pemecahan masalah.
8. Orang-orang yang tidak bisa diam, yang ingin memecahkan masalahmasalah yang telah gagal ditangani oleh pranata (negara dan mekanisme pasar) yang ada.
9. Mereka melampaui format-format lama (struktur mapan) dan terdorong untuk menemukan bentuk-bentuk baru organisasi.
10. Mereka lebih bebas dan independen, lebih efektif dan memilih keterlibatan yang lebih produktif.

Emerson (dalam Nicholls 2006, 12) juga mendefinisikan tipe dari pelaku social entrepreneurship, yakni :
1.Civic innovator
(Inovator dari kalangan sipil)
2. Founder of a revenue generating social enterprise
(Pendiri social enterprise yang mampu meningkatkan penerimaan)
3. Launcher of a related revenue generating activity to create a surplus to support social vision.
(Para aktor yang melaksanakan aktivitas yang berhubungandengan peningkatan penerimaan yang menciptakan surplus untuk mendukung visi sosial).

Ada pepatah yang menyatakan: Jika ingin membantu seseorang berilah dia kail beserta umpannya sehingga dia dapat mencari ikan secara terus menerus demi memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Jangan hanya berikan ikannya saja karena ikan itu akan langsung habis begitu dimakan dan kedepannya dia akan kembali meminta belas kasihan dari orang lain demi memenuhi kebutuhan hidupnya.
Ada beberapa tokoh social entrepreneurs yang dapat dijadikan contoh bagaimana panggilan hati mereka mengubah wajah dunia.
Muhammad Yunus adalah seorang bankir dari negara Bangladesh yang telah berhasil mengembangkan konsep kredit mikro, yaitu pengembangan pinjaman skala kecil untuk entrepreneur miskon yang tidak mampu meminjam dari bank umum. Salah satu bentuk hasil implementasi gagasannya adalah dengan mendirikan Grameen Bank. Dari keberhasilannya ini, Muhammad Yunus berhasil mendapatkan Hadiah Budaya Asia Fukuoka XII pada tahun 2001. Lima tahun kemudian, tepatnya pada tahun 2006, sebuah Penghargaan Nobel Perdamaian juga berhasil diraih Muhammad Yunus beserta konsepGrameen Bank miliknya.
Sandiaga Salahudin Uno atau sering dipanggil Sandi Uno (lahir di Rumbai, Pekanbaru, 28 Juni 1969; umur 42 tahun[1]) adalah pengusaha asal Indonesia. Sering hadir di acara seminar-seminar, Sandi Uno memberikan pembekalan tentang jiwa kewirausahaan (entrepreneurship), utamanya pada pemuda. Sandi Uno memulai usahanya setelah sempat menjadi seorang pengangguran ketika perusahaan yang mempekerjakannya bangkrut.  Bersama rekannya, Sandi Uno mendirikan sebuah perusahaan di bidang keuangan, PT Saratoga Advisor. Usaha tersebut terbukti sukses dan telah mengambil alih beberapa perusahaan lain. Pada tahun 2009, Sandi Uno tercatat sebagai orang terkaya urutan ke-29 di Indonesia menurut majalah Forbes. Pada tahun 2011, Forbes kembali merilis daftar orang terkaya di Indonesia. Sandiaga Uno menduduki peringkat ke-37 dengan total kekayaan US$ 660 juta.
Pada 2005, Anies menjadi direktur riset pada The Indonesian Institute. Kemudian pada 2008, ia mendapat anugerah sebagai 100 Tokoh Intelektual Muda Dunia versi Majalah Foreign Policy dari Amerika Serikat. Pada tahun yang sama, di usia muda (38 tahun) ia menjadi rektor Universitas Paramadina. Meskipun lahir di Kuningan, Jawa Barat, Anies menghabiskan masa kecil hingga kuliahnya di Yogyakarta. Salah satu gerakan yang berhasil didirikan adalah Indonesia Mengajar.
Tri Mumpuni adalah sosok ibu yang bersahaja, rendah hati, dan ramah. Ibu dua anak yang mengabdikan dirinya bagi masyarakat desa bersama suami tercinta, Iskandar Budisaroso Kuntoadji. Beliau biasa dipanggil Bu Puni. Tidak kurang 60 lokasi terpencil yang sebelumnya gelap gulita menjadi terang benderang dengan pembangkit yang mereka bangun. Melalui Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan (Ibeka) yang mereka bentuk memberikan penerangan dibeberapa wilayah Indonesia dan satu lokasi di Filipina. Bu Puni ini lebih dikenal sebagai Penjuang Mikro Hido karena telah berhasil mengembangkan pembangkit listrik tenaga air.
Sebenarnya masih banyak lagi tokoh-tokoh social entrepreneur yang dapat dijadikan motivator sekaligus inspirator bagi para generasi muda saat ini dimana melalui gagasan dan pemikiran kreatif yang dimiliki mampu menciptakan lapangan kerja yang terkait dengan masyarakat langsung sehingga dapat memberikan multi effect dari tingkat hulu ke hilir. Semakin banyak masyarakat yang bisa disejahterakan maka akan semakin banyak juga amal jariyah kita yang akan didapatkan. Jadi kesimpulannya disini adalah memang Menjadi Entrepreneur Itu Baik Namun Menjadi Social Entrepreneur Itu Lebih Baik. Salam perubahan


Agung Setiawan

Senin, 15 April 2013

kontingen boyolali











15 APRIL 2013


“Pramuka Bukan Segala-galanya, namun Segala-galanya dari Pramuka”

Pramuka merupakan kegiatan ekstrakurikuler yang hampir setiap jenjang pendidikan dari SD, SMP, SMA bahkan sampai universitas pun ada. Kegiatan ini sebagai pelatihan softskill yang bagus bagi semua orang. Selain itu nilai-nilai kepramukaan menanamkan banyak hal yang sangat bermanfaat bagi semua orang. Nilai kecintaan terhadap bangsa indonesiapun dilatih dalam pramuka. Karakter dan kepribadian juga digembleng dalam kepramukaaan. Untuk itulah kenapa ekstrakurikuler pramuka pasti ada disetiap jenjang pendidikan.
Pertama kali saya mengenal pramuka adalah ketika SMP. Banyak pembelajaran yang menarik dan bermanfaat yang disampaikan dengan menarik. Dapat berupa permainan, tugas kelompok , adu ketangkasan antar kelompok dan sebagainya. Hal tersebut menarik saya untuk menyukai pramuka. Sehingga beruntung pertama kali saya ikut terpilih sebagai perwakilan ambalan SMP untuk mengikuti jambore ranting pada tahun 2006.
Tidak berhenti di SMP, ketika SMA saya juga mengikuti kegiatan pramuka. Ada yang berbeda disini, yaitu mental lebih dilatih keras dari pada di SMP.  Sehingga benar-benar tidak ada yang cengeng di kepramukaan. Namun nilai-nilai kepramukaan tetap  sebagai landasan dasar kegiatan pramuka.
Sebuah keberuntungan dapat mewakili kontingan kabupaten untuk mengikuti kegiatan RAIMUNA DAERAH JATENG. Sebelumnya diseleksi di kabupaten dan di dapatkan 1 kontingan putra dan 1 kontingen putrid dan saya termasuk didalam kontingen tersebut. RAIDA tersebut dilaksanakan di Pantai Widara Payung, Cilacap pada tahun 2009. Banyak sekali pembelajaran dan pengalaman yang luar biasa dalam RAIDA tersebut. Beberapa piala kami dapatkan, seperti kontingan tergiat dan beberapa penghargaan lainnya.
Setelah menjadi Bantara (jenjang kepramukaan) ada kesempatan penentuan Pradana (pemimpin Bantara). Saya memiliki ambisi yang besar sekali untuk dapat menjadi Pradana. Dan kemudian hal tersebut benar-benar terjadi, saya terpilih sebagai Pradana. Padahal ketika itu posisi saya telah menjadi Ketua Osis 1( wakil Ketua Osis Umum). Namun dengan kesungguhan hati tetap saya terima apa yang telah menjadi harapan sejak dulu. Dan pada masa itu adalah masa kejayaan untuk saya dapat memegang kegiatan pramuka di SMA dan sekaligus menjalankan kepengurusan Osis. Itulah yang menjadi tolak balik saya untuk selalu bekerjasama dalam sebuah organisasi. Dan nilai-nilai dan jiwa kepramukaan selalu melekat dalam pribadi. Saya masih teringat dengan perkataan Pembina pramuka dulu, “Pramuka bukanlah segala-galanya, namun Segala-galanya dari Pramuka”.
Disamping itu, saya juga diminta guru Pembina pramuka SMP untuk mengajar pramuka di SMP. Dan itu merupakan hal yang menarik, dapat melatih diri untuk mengajar pramuka di SMP. Banyak tantangan yang didapatkan ketika menjadi Pembina di SMP, seperti teknik komunikasi yang baik, benar dan menarik dan melatih emosi terhadap anak-anak SMP yang bandel.
Sampai sekarang pun ketika dalam kepramukaan SMA ada kegiatan tidak jarang saya menghadiri atau bahkan diminta mengisi sekedar memotivasi adek-adek kelas. Dan hingga sekarang, meskipun sudah tidak melanjutkan pendidikan kepramukaan di Universitas, namun nilai-nilai kepramukaan selalu menjadi prnsip dalam bertindak. 

Selasa, 09 April 2013

PEMANTIK PANGGILAN HATI


Jogjakarta – Benteng Vredebrug dipenuhi para pengunjung yang datang. Kali ini pengunjung lebih banyak dari biasanya dikarenakan ada acara Jogjanesia yang diselenggarakan oleh forum Komunitas Sosial se Jogja. Dalam acara tersebut mendatangkan berbagai komunitas sosial di Jogja.
            “Saya salut dengan teman-teman komunitas-komunitas itu” ujar Rizkam,pengunjung sekaligus Ketua BEM Farmasi di tengah keramaian stand komunitas(03/03/2013). Berbagai cara dan langkah yang mereka lakukan untuk memberikan kemanfaatan bagi orang-orang yang membutuhkan. Ada yang hanya dengan pengumpulan koin hingga terjun langsung memberikan jasa sosialnya untuk orang-orang yang membutuhkan.
            “Saya jadi tertarik” ungkap Ketua BEM Farmasi tersebut.  “Orang-orang yang mau memberikan waktunya untuk orang yang membutuhkan adalah orang yang hebat” tambahnya. Berbagi adalah kata kunci dalam memberikan makna kemanfaatan untuk orang lain.
            Dengan terlaksananya Jogjanesia harapannya dapat membuka wawasan kepada masyarakat bahwa masih ada segelintir orang yang peduli. Acara ini hanya sebagai pemantik kepada masyarakat agar dapat memberikan kemanfaatan hidupnya untuk orang lain. Bisa dengan berbagi materi maupun jasa sosialnya.
            “Acara seperti ini perlu dilaksanakan lagi” kata Rizkam, ketua BEM Farmasi. Banyak hal yang didapat dari acara ini, seperti link untuk menyalurkan bantuan dan penanaman nilai-nilai sosial.
            Diluar sana ada beberapa orang yang tidak peduli dengan keadaan orang lain. Namun diyakini pasti mereka sudah berbagi meski bukan disini, karena tidak perlu membuat wadah baru untuk berbagi kemanfaatan kepada orang lain. “jangan pesimis, lakukan apa yang dapat dilakukan untuk berbagi kepada orang lain.” Ujar ketua BEM Farmasi, Rizkam.
            “Hidup-hidupilah Indonesia!” kata Rizkam. Pesan sosial untuk orang-orang yang tidak hidup sendiri.


Agung Setiawan/Ilmu Keperawatan Gigi/2011/UGM

Rabu, 06 Februari 2013

MOTIVASI DIRI SANGAT DIPERLUKAN

"Jatuh dari ketinggian memang sakit, namun bagaimana agar dapat memantulkan setinggi-tingginya dari jatuh tersebut"
usaha , korban, resiko harus dilalui, tidak akan ada keringat sia-sia.
jauh disana lebih banyak orang yang tidak beruntung, dimanakah wujud rasa syukurmu?
cobaan yang diberikan pastilah tidak akan melampaui batas kemampuanmu, hal tersebut harus kau ketahui.
agar kamu dapat bangkit dari jatuhmu.

Rabu, 19 Desember 2012

Pengembangan Jiwa Sosial



Agung Setiawan
Ilmu Keperawatan Gigi/ Fakultas Kedokteran Gigi/Universitas Gadjah Mada/2011

Kisah ini dimulai dari asa yang terpendam dan ragu. Sempat terfikir untuk berhenti melangkah. Mulai ada seberkas sinar menerangi jalanku. Suara itu masih teringat jelas dalam otak tengahku, “Jangan putus sekolah sampai disini! Insya allah bapak dan ibu akan sekuat tenaga membiayai”. Aku tidak ingin mengecewakan orang tuaku. Aku bertekat untuk tetap bersekolah meski tak tahu mampu atau tidak.
Sungguh Allah bersama dengan orang-orang yang sabar. Aku dapat melanjutkan kuliah dan mendapatkan beastudi etos. Inilah yang aku harapkan. Tidak ingin membebani orang tua dengan kebutuhanku kuliah. Apalagi adik-adikku sudah menginjak SMA dan SMP. Kebutuhan hidup dan biaya sekolah adik-adikku lebih penting dari pada biaya kuliahku. Karena sungguh beruntung aku dipertemukan dengan beastudi etos.
Awal masuk beastudi etos aku kira akan terkekang oleh aturan yang kian beratnya. Namun aku coba tetap bertahan meski kutahu aku tak sempurna. Aku hiraukan segala kekuranganku. Meski begitu aku coba memperbaiki sedikit demi sedikit. Karena hasil adalah ketentuan Allah dan aku hanya bisa berusaha memperbaiki dan menjaganya.
Banyak sekali pembinaan yang dilakukan oleh beastudi etos. Mulai dari pembinaan angkatan, pembinaan bersama, pembinaan asrama dan pembinaan lainnya. Pembinaan lain tersebut ada pula yang dilakukan melalui kegiatan sosial seperti pengelolaan SDP(sekolah desa produktif),THQ(tebar hewan kurban), kegiatan pengembangan diri dalam kepanitiaan seperti Toenas(try out etos nasional), Up grading, dan TENS(Temu Etos Nasional). Masih ada banyak lagi kegiatan diluar itu seperti panitia seleksi masuk beastudi etos, kurma(kunjungan ramadhan), rihlah, inisiasi etos dan sebagainya.
Satu tahun lebih telah berada di beastudi etos dompet dhuafa, banyak hal telah dilalui. Dimulai dari inisiasi etoser baru. Aku katakan bahwa cukup menarik dan menantang, kenapa demikian. Yah, kami hanya diberi petunjuk amplop surat yang berisi pertanyaan dan pernyataan untuk dapat menuju lokasi inisiasi. Berkat kerjasama dan kolaborasi dari berbagai latar belakang kami, maka kami dapat memecahkan teka-teki dalam amplop tersebut dan sampai di lokasi tepat waktu. Dalam kegiatan inisiasi ada satu hal yang menarik yaitu FAS(festival anak sholeh), dengan antusias warga begitu besar dalam ikut menyemarakkan FAS pada bulan ramadhan.
Banyak wajah-wajah asing yang nampak di pandanganku. Mereka begitu hebat dengan latar belakang masing-masing orang berbeda. Ketika sesi kegiatan “Who am I?” aku mendengarkan kisah perjuangan dari teman-teman yang begitu panjang dan berliku-liku. Ada yang hingga menunggu 1 tahun untuk dapat melanjutkan kuliah, ada yang ketika SMA sambil bekerja, ada yang berkelana ke berbagai universitas dulu dan akhirnya sampailah disini. Begitu menarik dan menginspirasi kisah-kisah hidup mereka. Kemudian ketika aku bercerita tentang kisahku. “Kisahku tidak semenarik punya teman-teman, hingga begitu berat perjuangan kalian untuk meraih sesuatu. Kalau aku bisa sampai disini ya mungkin ini sudah rencana Allah padaku. Yang penting aku bersyukur atas apa yang telah Allah berikan padaku. Kisah hidupku biasa saja, tidak ada yang menarik, hanya kalau di keluarga mungkin aku yang lebih diandalkan untuk menjaga adik-adik dan membantu kakek untuk memelihara sapi dan kambing. Pernah aku ditubruk sapi hingga aku menangis, karena aku masih takut, ketika itu masih SD.” Itu sedikit penggalan yang aku ceritakan ketika sesi who am I. Banyak dari mereka yang ketawa, dari cerita teman-teman sebelumnya banyak rasa haru yang muncul tapi ketika aku bercerita malah membuat para etoser ketawa terbahak-bahak.
Memang aku orangnya tidak begitu suka dengan hal-hal yang kaku harus mengikuti aturan atau malah menyedihkan. Aku lebih menyukai hal-hal yang membuat senang dan membuat pikiran segar. Bahkan ketika menghadapi suatu hal yang membuat tegang aku tidak antusias merasa jengkel terhadap sistem yang dibuat kaku dan harus ini harus itu. Itulah sebabnya aku orangnya tidak mempedulikan apa kekuranganku, namun tetap ada introspeksi diri dari diriku sendiri untuk mencoba memperbaiki sisi kekuranganku. Aku tidak suka dengan hal-hal yang ribet dan administrative. Mending langsung gerak dan realistis saja dari pada hanya berkata-kata tidak ada tindakan real. Itulah prinsip yang masih aku pegang.
Kembali lagi ke kegiatan beastudi etos. Pada bulan ramadhan biasanya kegiatan etos cukup banyak, seperti kunjungan ramadhan dan pengajian serta FAS pun juga dilaksanakan. Pada tahun 2011 kunjungan ramadhan dan pengajian dilakukan sekaligus pada saat inisiasi. Nah, aku teringat ketika memberikan pengumuman ke mushola-mushola di disa inisiasi. Kami dibagi menjadi beberapa kelompok untuk mengumumkan tentang akan adanya pengajian dan FAS untuk anak-anak di daerah tersebut. Aku mengawali dengan salam dan perkenalan, karena tempatnya di pedesaan jawa, maka bahasa jawa krama halus pun harus dilestarikan. Aku mencoba menggunakan bahasa jawa karma halus. Entah sadar atau tidak salah satu kakak tingkat(etoser) setelah selesai mengumumkan beliau bilang kepadaku. “Gung, bahasa jawa karma halusmu harus kamu perbaiki, hehehe tadi ada beberapa kata yang tidak sepantasnya kamu ucapkan untuk warga disana. Oke? Sip”. Ternyata meskipun aku sendiri dari jawa namun perlu adanya peningkatan penguasaan bahasa jawa krama halus untukku. “Okelah itu hanyalah permulaan untuk menjadi lebih baik di kemudian harinya.” Kataku dalam hati.
Ada satu kegiatan yang bagiku begitu menarik dan menyenangkan, yaitu up grading. Persiapan untuk menuju up grading pun kami banyak sekali yang harus dipersiapkan, seperti membeli barang-barang makanan mentah dan alat outbound.
Berbekal barang pribadi dan makanan mentah serta alat outbound kami melukukan perjalanan. Sebelumnya, rute yang diberikanpun hanya teka-teki untuk mencapai tempat yang dimaksudkan. Dengan usaha sekeras mungkin kami menemukan tempat tujuan dengan naik angkot umum. Kami berangkat pukul 04.30 WIB dengan suhu yang cukup dingin kami mandi dan siap berangkat. Cukup lama kiranya ketika menunggu akhwat untuk berangkat pagi. Dan akhirnya pun kami dapat berangkat menuju titik tujuan amplop pertama dan selanjutnya.
Dalam perjalanan yang ternyata semakin ke atas itu semakin berat bagi bus untuk dapat naik keatas, karena mobil sudah tua. Sehingg mobil yang ditempati ikhwan mogok karena kepanasan pada mesinnya. Kemudian kami menunggu jemputan dari bus yang tadinya nganterin akhwat. Begitu nasib atau ada hikmah dibalik bencana tersebut.
Sampai pada tempat tujuan terakhir kami masih harus berjalan sepanjang 7 hingga 10 kilo meter untuk menuju lokasi. Karena mobil atau bus tidak bisa masuk kedalam. Sehingga kami harus melewati jalan berbatu di tanjakan yang tinggi dan derajat kemiringannya 45-25 derajat.
Ketika berkoordinasi dan perkenalan dengan warga tersebut, kami menjelaskan, “ kami beastudi etos dari dompet dhuafa ingin melakukan beberapa kegiatan di desa ini. Salah satunya adalah berkontak sosial dan mengikuti apa yang bapak dan ibu kerjakan setiap harinya. Kami berada disini maksimal hanya 3 hari.” Hal tersebut diatas kenapa menjadi hal yang penting karena orientasi atau perkenalan adalah tahap awal untuk menarik dan meyakinkan orang bahwa kami ke sini insya Allah membawa kebermanfaatan bagi diri sendiri dan orang lain.
Kami mengikuti kegiatan salah satu warga tersebut, yaitu mencari rumput untuk hewan peliharaanya dan beruntungnya aku dapat kesempatan untuk ikut memanen wortel dan loncang. Cukup berat beban barang-barang tersebut bagi orang yang tidak pernah atau jarang mengangkat beban segitu.
Betapa tangguhnya orang-orang lereng merbabu ini, berangkat ke sawah pagi-pagi dan mampu mengangkat beban seberat badannya sendiri. Bahkan yang mengangkat adalah para perempuan yang masih muda. Rata-rata dari warga tersebut pendidikan yang di dapat hanyalah sampai SD saja, karena letak SMP dan SMA yang jauh dan pandangan mereka tentang sekolah tidak baik. Mereka beranggapan, “Buat apa sekolah tinggi-tinggi, mending langsung bantu orang tua disawah saja biar dapat uang.” Itulah paradigma warga yang tidak mudah merubahnya jika di daerah tersebut belum ada SMP dan SMA yang berdiri di di sekitar daerah tersebut.
Dalam kegiatan up grading kami juga melakukan outbound. Ada hal yang lucu dalam outbound tersebut, yaitu aku dan timku nyasar. Kami bingung mencari rute jalan yang benar, sehingga kami terus berjalan untuk mencari panitia di sekitar tempat tersebut. Kami berhenti sejenak menghela nafas dan perut pun jadinya demo agar diisi dahulu.
Ketika meregangkan otot kami menemukan adanya ladang wortel yang untungnya ada pemiliknya. Kami minta beberapa wortel agar dapat mengisi perut kosong ini, namun wortelnya masih kecil dan belum waktunya untuk dipanen. Kemudian kami tetap berjalan entah kemana. Melihat ada pemukiman, maka kami ke pemukiman tersebut. Beruntungnya kami di jamu oleh pemilik rumah dengan cukup mewah. Kemudian kami berpamitan dan mengucapkan terima kasih atas kebaikan hatinya.
Di sisi agama, desa ini sudah cukup baik, setiap selesai sholat dzuhur selalu ngaji di masjid. Rentang mengajinya pun  cukup lama, dari habis dzuhur sampai menjelang maghrib. Mereka adalah anak-anak dari usia SD sampai usia SMP.
Ada satu kegiatan beastudi etos yang menurutku selalu teringat dan menarik, yaitu THQ(tebar hewan kurban). Pada tahun 2011 THQ dilaksanakan di kulon progo, tepatnya desa tapen, kelurahan hargomulyo, kecamatan kokap, kabupaten kulon progo. Ada cerita menarik ketika aku dan temanku zaenal membawa kambing dari dompet dhuafa menggunakan motor. Kambing yang kami bawa ini tidak begitu besar. Ketika perjalanan, baru mencapai seperempat perjalanan motor kami bannya bocor, sehingga harus di tambal. Kami mencari tempat tambal sekaligus aku perhatikan kambing ini merasa kesakitan dan lemas ketika dibawa pakai motor. Padahal jarak tempuh yang akan dilalui sekitar satu seperempat jam. Syukur Alhamdulillah kami menemukan sebuah bengkel di pnggir jalan dan kami istirahat sekaligus menambalkan ban motor serta mengistirahatkan kambing yang nampak lemas tersebut. Ketika kambing di lepas nampak rasa senang pada muka kambing tersebut, ia berjalan kesana kemari sambil makan rumput yang ada di samping bengkel tersebut. Setelah selesai kami lanjutkan kembali perjalanan panjang menuju tempat THQ.
Dalam rangkaian THQ ada beberapa kegiatan yang disisipkan seperti pemeriksaan kesehatan gratis, bazar sembako, FAS, dan penyuluhan penyembelihan hewan kurban.
Kegiatan sosial yang lain adalah pengembangan SDP(sekolah desa produktif). Berfokus pada pemberdayaan masyarakat untuk menghasilkan output jangka panjang yang berkualitas. Pengorbanan untuk berbagi dengan mereka sangatlah besar. Karena tidak ada timbal balik secara langsung dapat dirasakan oleh orang tersebut. Pada periode ini amanah yang aku emban adalah mengkoordinir pengelolaan SDP Bronggang Suruh. Butuh dukungan dan keteguhan hati serta kesabaran untuk mengelola hal yang menyangkut orang banyak.
Dalam melaksanakan kegiatan tersebut tentunya jiwa sosial tiap orang pastinya akan muncul dan merasa bahwa sedikit saja peran kita dalam kegiatan sosial atau apapun, namun itu memberi manfaat yang besar maka berbahagialah karena kamu termasuk orang-orang yang dapat berbagi dan tidak sia-sia.
Mari berbagi, mari memberi, uluran tanganmu dibutuhkan mereka.
Salam pengabdian!!!